Sunday, June 26, 2011

Catatan Perburuan Harta Karun

Peninggalan bawah air
Indonesia merupakan negara maritim yang mempunyai kekayaan bawah air. Salah satunya adalah benda-benda berupa keramik, emas batangan, uang logam, guci, gerabah, piring, gelas, mangkuk, dan patung yang ditemukan dari sisa kapal karam.

National Geographic (2001) menyebutkan tentang 7 kapal kuno tenggelam di perairan Indonesia bagian barat, terutama Selat Malaka, pada abad XVII-XX. Kapal-kapal itu adalah Diana (Inggris), Tek Sing dan Turiang (China), Nassau dan Geldennalsen (Belanda), Don Duarte de Guerra (Portugis), serta Ashigara (Jepang).

Hal itu belum termasuk kapal-kapal dagang abad III-XV yang didominasi saudagar China yang singgah atau berdagang di sejumlah pelabuhan pada zaman kerajaan di Nusantara. Misalnya, pendeta China, Yijing, mencatat kunjungannya ke Pelabuhan Sriwijaya pada abad VII untuk belajar bahasa Sanskerta.

Pada tahun 1986, dunia digemparkan dengan peristiwa penemuan 100 batang emas dan 20.000 keramik Dinasti Ming dan Ching dari kapal VOC Geldennalsen yang karam di perairan Kepulauan Riau pada Januari 1751. Penemu harta karun itu adalah Michael Hatcher, warga Australia, yang menyebut dirinya sebagai arkeolog maritim yang doyan bisnis.Percetakan Inggris, Hamish Hamilton Ltd, memublikasikan kisah petualangan dan temuan Hatcher itu dalam The Nanking Cargo (1987).

Nanking Cargo merupakan sebutan kargo kapal VOC Geldennalsen yang berisi barang-barang berharga hasil transaksi perdagangan VOC di Nanking, China.

Yang paling terkejut dengan temuan Hatcher itu adalah Pemerintah Indonesia. Bagaimana tidak, barang-barang yang dilelang Hatcher di balai lelang Belanda, Christie, senilai 15 juta dollar AS itu ditemukan di perairan Kepulauan Riau.

”Waktu itu, Pemerintah Indonesia merasa kecolongan lantaran Hatcher mengambil harta karun secara ilegal atau tidak seizin pemerintah,” kata Kepala Subpengendalian dan Pemanfaatan Direktorat Peninggalan Bawah Air Departemen Kebudayaan dan Pariwisata R Widiati di Rembang, Jawa Tengah, Selasa (18/8).

Bukan itu saja, pada 1999 di Batu Hitam, Bangka Belitung, sebuah perusahaan asing mengambil ratusan batangan emas dan 60.000 porselen China Dinasti Tang yang dilelang senilai 40 juta dollar AS. Setahun kemudian, perusahaan asing yang diduga di bawah kendali Hatcher mengangkut dan melelang 250.000 keramik China dari Selat Gelasa, Bangka Belitung, ke Nagel, balai lelang Jerman.


Ketika penjajah masuk, sebagian kekayaan Nusantara (bangsa Indonesia) telah diover alih dan dikirim ke negaranya. Sebagian lain, masih ada di tanah air. Catatan-catatan soal keberadaan harta itu tak banyak. Diantaranya dipegang para ahli waris secara turun temurun, dan tersebar diberbagai tempat. Tidak sedikit pula diantara catatan-catatan itu yang jatuh ketangan pihak ketiga. Mereka inilah yang kerap disebut pemburu harta karun.

Catata beberapa perburuan harta karun

Tahun 1966-1973
Presiden Soeharto membentuk tim untuk melacak keberadaan Dana Revolusi zaman Sukarno. Tim yang diketuai Letjen Soerjo, Ketua Tim Pengawasa3n Keuangan Negara, itu berhas3il menyelamatkan uang dan barang senilai US$ 9,8 juta. Tim itu juga menemukan rekening Soebandrio di Union Banques Suisses dan Schwe3zerische Bankgesellschaft, Bern, Swiss.

Tahun 1982=
Michel Hatcher, pemburu harta karun asa3l Inggris, memulai perburuan muatan kapal VOC, Geldermalsen, yang karam diperairan Riau pada 1752. hatcher berhasil mengeruk 150 ribu barang antik dan 225 batang emas lantakan. Diilhami temuan Hatcher, pemerintah lalu membentuk panitia nasional untuk memburu harta karun. Hasilnya tak diketahui sampai sekarang.

Tahun 1986-
Atas usul Suhardiman, saat itu Ketua SOKSI, pemerintah membentuk Tim Operasi Teladan yagn dipimpin Marsekal Pertama Kahardiman untuk memburu Dana Revolusi. Yang ditemukan tim ini justru dana di Bank Indonesia sebesar US$ 550 ribu dan Rp 1,5 miliar. Selain itu, tim ini menemukan dana US$ 250 di Bank Guyerzeller Zumont, Swiss, dan US$ 250 ribu di Bank Daiwa Securities, Tokyo.

Tahun 1998-
Seorang wanita muda, Lilik Sudarti, mengaku puny bukti dokumen kepemilikan harta karun peninggalan Sukarno di banyak bank di Swiss. Presiden Soeharto antusias dan pada 21 April 1998 mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik untuk mencari harta karun itu. Menurut Lilik, total Dana Nusantara adalah US$ 250 miliar atau senilai Rp 2.212,5 triliun (dengan kurs 1 dolar AS = Rp 8.850) yang disimpan di 21 bank di dunia.

Tahun 2000-
Kiai Abdul Rahman mendirikan Yayasan Ahlus Sunnah wal Jamaah (Yamisa) dan menggembar-gemborkan adanya dana peninggalan sembilan kerajaan di Nusantara di tangannya. Ia menjaring ribuan orang dihampir seluruh Indonesia. Ia menjanjikan gaji ratusan juta rupiah bagi pengurus yayasan di cabang-cabang. Tapi, sampai sekarang, Abdul Rahman belum bisa membuktikan janjinya. Yayasan itu masih berjalan sampai sekarang.

Tahun 2001
Presiden Abdurrahman Wahid juga ternyata percaya kepada Lilik Sudarti. Ia mengeluarkan surat penugasan kepada Lilik Sudarti dan Sekretaris Neara Djohan Effendi untuk mencairkan dana peninggalan Sukarno.

Tahun 2001
Atas izin Presiden Abdurrahman Wahid, paranormal Permadi menggandeng pengusaha Harry Tanujaya dan Sudibyo Tanujaya untuk melacak Dana Revolusi. Permadi mengontak tim Spicer di Sandline International, perusahaan keamnan di London. Tapi tim dari Spicer menganggap pemerintah Indonesia tidak punya bukti kuat.

Tahun 2002
Menteri Agama Said Agil Al Munawar memimpin penggalian di sekitar Prasasti Batutulis, Bogor. Said Agil rupanya percaya kepada “orang pintar” yang membisikkan adanya harta karun peninggalan Kerajaan Pajajaran di bawah prasasti itu. Harta tak ditemukan. Said Agil dicaci banyak orang karena kekonyolannya.

Tahun 2004
Rahmawati, wanita asal Jakarta, menggali harta karun di dalam kawasan Kebun Raya Bogor. Rahmawati mendasarkan keyakinannya tentang harta karun dikawasan itu atas dasar bisikan gaib. Atas bisikan itu, Rahmawati memperkirakan terdapat emas lantakan dan peta harta karun di sekitar kawasan yang digalinya. Namun ia harus berurusan dengan polisi, karena dianggap melanggar areal yang dilindungi hukum.

Kini ....Tahun 2011 ini banyak harta karun milik rakyat indonesia yang dibawa ke Singapore.. oleh para tersangka korupsi:)

sumber :
http://rahsiakayubatudanlogam.wordpress.com/2010/11/24/harta-karun-di-indonesia/


1 comment:

  1. Tidak salah jika banyak orang yang memprediksikan bahwa industri desain grafis akan maju dan maju. So, pendapat ini bukan tanpa alasan, setiap hari selalu tumbuh perusahaan-perusaan kecil dan menengah serta semakin banyak produk baru yang dikeluarkan oleh perusahaan mereka. Perusahaan yang sudah besar pun semakin memperkuat produk mereka dengan menciptakan produk-produk baru.

    Mereka semua memerlukan sebuah alat untuk mempromosikan produk mereka yaitu media cetak dan media elektronik. Media cetak yang mereka butuhkan seperti Brosur, Iklan, kartu nama, atau logo-logo baru untuk perusahaan atau anak perusahaan mereka. Media elektronik seperti iklan di website atau bahkan membuat website sendiri itu juga memerlukan seorang desainer juga. Nah, ini semua adalah salah satu bukti bahwa industri desain grafis akan terus berkembang. So, apa pendapatmu?

    ReplyDelete